Trik Set Up Modem untuk Mempercepat Koneksi Internet

Tahukah kamu bahwa kecepatan koneksi internet dapat kamu tingkatkan dengan mengubah beberapa setting tertentu pada Windows. Walaupun sekarang sudah banyak software-software untuk mempercepat koneksi internet mungkin kamu tidak akan rugi untuk mengetahui cara mempercepat secara “manual” seperti yang tercantum di bawah ini:

Cara Pertama
Dari Control Panel, klik icon Modem.
Pada kotak dialog Modem Properties, pilih modem yang akan diubah settingnya dan klik pada tombol Properties
Pada tab General, ubah Maximum Speed menjadi 115200.
Pindah ke tab Connection dan klik tombol Port Setting.
Dari kotak dialog Advanced Port Setting, beri tanda check pada Use FIFO buffers. Kemudian ubah Receive Buffer menjadi 14 dan Transmit Buffer menjadi 16. Lalu klik OK.
Klik button Advanced, beri tanda check pada Use Flow Control. Kemudian pilih radio button Hardware. Pada bagian Extra Setting, isi dengan &C1&D2E1Q0V1X4%C0 S7=55 S11=55 S0=0.

Cara Kedua
Dari Control Panel, klik icon System.
Pindah ke tab Device Manager.
Pada bagian Ports (COM & LPT), pilih port yang digunakan oleh modem Anda dan klik tombol Properties.
Pindah ke tab Port Settings.
Pada bagian Bits per second, isi dengan 921600.

Cara Ketiga
Buka file system.ini yang terletak di C:Windows.
Pada bagian [386Enh], tambahkan dengan COM1Buffer=16384. Ubah COM1 dengan port yang digunakan oleh modem.

2020 Chinas can reach Moons

China has been working on its space programme since the 1970s but in 2003 it sent an astronaut into space, becoming only the third country to launch a person into orbit. Since then, the country’s ambitions and capability have grown to the point where the US space agency now thinks China could put people on the Moon within the next decade, if it so wishes.

Dr Michael Griffin, who has been the head of NASA since 2005, China could achieve this milestone before the return mission planned by the United States for the year 2020. President George Bush announced the American Moon initiative in 2004, but Dr Griffin would not be drawn on whether it mattered if China got there before the United States. He even hinted that the two countries could collaborate on space projects in future.

Dr. Michael Griffin:
“I think we’re always better off if we try to find arenas where we can collaborate rather than quarrel and I would remind your viewers that the first first US-Soviet human space co-operation took place in 1975 at virtually the height of the Cold War and it led in the end, you know, eighteen years later to discussions about an international space station programme in which we are involved together today.”

Though China has given no timetable, some observers think a manned Moon mission is inevitable. Dr Griffin said humans needed to continue advancing the frontiers of space exploration, regardless of which countries made the breakthroughs.

Evinronmentalist try to save dolphins

Environmentalists are beginning another desperate effort in a few hours to save a school of dolphins stranded for days off New York’s Long Island coast. Several dolphins from the group of twenty or so have already been guided out to sea, but some have died and a number remain trapped in the shallow waters of a cove. Environmentalists will use high frequency sound generators and a flotilla of small boats to try to herd the dolphins to safety. The creatures are growing increasingly weak and it’s thought today’s rescue effort may be a last chance to save them.

Australia condemns comments by a Muslim cleric

The Australian government has condemned a Muslim cleric who referred to Jews as pigs and encouraged children to become martyrs. Sheik Feiz Mohammed, who is the head of an Islamic youth centre in the (eastern) city of Sydney, made the comments in a series of videotaped lectures.

An Australian government minister said the views were reprehensible and offensive.

Sheik Feiz is reported to have spent the past year in Lebanon. His comments were made public in a British television documentary screened this week.

TRIK Mempercepat DNS-lookup untuk Server Favorit

Disaat anda browsing internet entah itu menggunakan browser apapun mungkin anda pernah memperhatikan tulisan di kiri bawah baris status browser? “Connecting to…”, “Waiting for…”, “Transfering data from…”. Itu semua adalah merupakan komunikasi data yang terjadi antara browser, server DNS, dan website yang sedang anda kunjungi. Kalau anda ingin proses tersebut bisa berjalan lebih cepat, ada sedikit tips yang sebenarnya anda bisa lakukan untuk mempercepat proses tersebut.

Ketika kita mengunjungi sebuah website, misalnya www.yahoo.com, yang pertama kali dilakukan oleh browser adalah meminta alamat IP dari website yahoo ke server DNS. Server DNS ini kemudian melakukan pencarian ke database dan memberikan hasilnya kebrowser anda. Alamat IP dari website yahoo adalah 202.131.36.158. selanjutnya browser meminta halaman yang ingin anda kunjungi ke alamat ini. Proses permintaan alamat IP dan pencarian di database jelas memerlukan waktu.

Ada satu trik agar agar browser tidak perlu bertanya ke server DNS yaitu dengan mencantumkan alamat IP website yahoo tersebut ke dalam file Hosts yang terdapat di folder C:\Windows\System32\Driveretc. Dengan cara tersebut browser akan langsung meminta halaman web ke alamat 202.131.36.158.

Cantumkan semua alamat website yang sering anda kunjungi ke dalam file hosts, kalau anda bingung untuk mengetahui alamat IP dari masing-masing website, bisa gunakan perintah run kemudian ketikkan perintah ping www.yahoo.com. Alamat website silahkan diganti dengan website yang anda ingin tahu alamat IP nya. Setelah semua alamat IP yang sering anda kunjungi anda masukan ke file hosts, restart windows agar system membaca ulang isi file hosts. File hosts juga bisa digunakan untuk memblokir alamat-alamat website yang tidak diinginkan.

Catatan : untuk membuka file hosts bisa digunakan program notepad, penulisannya adalah anda tuliskan dahulu nomer IP nya kemudian spasi alamat websitenya.

Contoh : 71.14.253.147 www.google.co.id

No War On Iran (Warga AS Tolak Perang dengan Iran)

Minnesota - Sekitar seratus orang aktivis anti-perang AS melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung Kongres negara bagian Minnesota. Mereka menyatakan menentang rancangan undang-undang tentang seruan agar angkatan laut AS melakukan blokade terhadap Iran. Para pengunjuk rasa itu khawatir, tindakan tersebut akan memicu perang antara AS dan Negara Republik Islam Iran.

“Saat ini ada indikasi bahwa pemerintah ingin memulai perang dengan Iran. Dan mereka sedang merancang alasan untuk memulai perang serta membentuk opini publik agar siap menghadapi perang itu, ” kata Omeid Mohsseini-juru bicara aksi unjuk rasa-warga negara AS keturunan Iran.

Ia melanjutkan, “Dengan resolusi-resolusi baru ini, mereka akan memblokade kapal-kapal Iran, perdagangan, semuanya. Dan hal itu bisa memicu perang.”

Para aktivis anti-perang itu mendesak Senator Amy Klobuchar dan Norm Coleman, serta anggota Kongres Jim Ramstad menarik dukungan atas draft undang-undang yang saat ini sedang ditunda pembahasannya di Kongres AS. Draft tersebut diajukan oleh anggota DPR dan Senat AS, berisi seruan agar pemerintah AS menerapkan sanksi yang lebih berat pada Iran.
Salah butir draft bernomer H. Res 362, berisi desakan agar Presiden AS memperketat inspeksi pada semua orang, kendaraan, kapal-kapal, pesawat, kereta dan kargo yang menuju atau dari Iran.

Dalam aksi damai yang dikordinir oleh organisasi perdamaian lokal serta organisasi Woman Against Military Madness, putera Keith Ellison-Muslim AS pertama yang terpilih menjadi anggota Kongres-membacakan pernyataan dukungan dari ayahnya.

Sementara Mohssenini mengatakan, ia menentang konfrontasi AS dengan Iran baik sebagai orang Iran sekaligus warga negara Amerika. “Pertama, saya adalah orang Iran dan keluarga, sahabat serta kerabat saya masih tinggal di Iran dan saya sangat peduli dengan keselamatan mereka, ” tukas Mohsseini.

“Kedua, saya warga negara Amerika dan saya prihatin dengan kejahatan-kejahatan yang bisa dilakukan atas nama saya, seperti AS telah melakukannya di Irak, Afghanistan dan wilayah-wilayah lainnya, ” sambung Mohsseini.

Wakil dari para veteran perang dari Minneapolis, Andy Burman juga menentang perang dengan Iran. “Perang dengan Iran akan menjadi tragedi bagi rakyat AS dan bagi rakyat Iran. Perang itu juga akan memperburuk stabilitas perdamaian tidak hanya di Timur Tengah tapi juga seluruh dunia, ” kata Burman setelah memberikan orasinya.

Burman menuding Kongres dan pemerintahan Bush sedang berusaha membayar kekalahan mereka dalam perang di Irak, dengan mengobarkan perang lainnya dengan Iran.

Burman juga mengecam lembaga American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) yang ikut berperan dalam upaya mengobarkan perang dengan Iran. “Mereka (AIPAC) tidak mewakili keinginan kalangan Yahudi Amerika yang sangat menginginkan perdamaian, ” tukas Burman yang juga keturunan Yahud. (Sumber : Eramuslim)

GALLERY (Make Peace No War)

LOST SOUL IN VAIN

America Biological Weapons Project in Indonesia

Namru-2 (Proyek Senjata Kuman USA)


Laboratorium Angkatan Laut AS sudah tiga tahun beroperasi tanpa kontrak. Penelitinya kebal diplomatik dan bebas berkeliaran tanpa pemeriksaan. Indonesia negara bagian Amerika?

Lihat saja, tak lama lagi berbagai serangan dari LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) tertentu akan ditujukan kepada Departemen Kesehatan. Lalu departemen itu akan jadi inceran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Berbagai isu akan menerpa Siti Fadilah Supari, 59 tahun, Menteri Kesehatan yang memimpin departemen itu. Yang penting, menteri ini harus diberi pelajaran. Oleh karenanya berbagai elemen antek Amerika di Indonesia — yang bertebaran di pemerintahan, LSM, intelektual, pers, dan politisi – harus bekerja menyingkirkannya.

Skenario seperti ini secara eksplisit tergambar sebagai sesuatu yang lazim di dalam The Confessions of an Economic Hitman yang ditulis John Perkins, bekas intel ekonomi Amerika Serikat yang bertugas di Jakarta di tahun 1970-an. Perkins datang ke sini menyamar sebagai konsultan perusahaan Amerika, untuk membangun jaringan listrik. Tugas mereka sebenarnya adalah menguasai Indonesia dan Asia Tenggara, melalui jebakan utang luar negeri.

Lebih dari itu, seperti ditulis Perkins di bukunya, Amerika bisa memerintahkan pembunuhan atau penggulingan kekuasaan orang-orang yang mengganggu kepentingannya. Itu terjadi di berbagai negara Amerika Latin.

Siti Fadilah Supari adalah orang Indonesia pertama dalam beberapa dekade ini yang berani menentang kepentingan Amerika Serikat. Ia menjadi Soekarno di tahun 1960-an. Presiden pertama Indonesia itu dengan gagah berani berteriak, ‘’Go to hell’’, kepada Amerika. ‘’Pergilah ke neraka, Amerika.’’

Sesungguhnya ia patut ditabalkan sebagai patriot: Wanita Indonesia paling berani 2008. Ia berani mendobrak sistem dunia yang zalim, tak adil, yang menjadikan Amerika Serikat sebagai penguasa yang bisa bertindak seenak perut. Siti Fadilah Supari tak mau menjadi antek negeri adidaya itu, dan orang seperti dia dibutuhkan negeri yang sedang terpuruk dan rakyatnya terancam kelaparan. Itu semua karena banyak pemimpinnya yang lebih merasa nyaman menjadi antek daripada menegakkan martabat bangsa.

‘’Saya berjuang sendiri. Tapi ini sebuah ketidak-adilan yang bisa menuju pada kehancuran,’’ kata Siti. Betul, ia memang sendiri. Lebih 500 anggota DPR diam saja. Begitu pula anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang lebih sibuk kasak-kusuk untuk memperbesar kekuasaan. Tak ada dukungan pers, tak ada dukungan politisi, cendekiawan, atau siapa pun. Lihat betapa sulitnya tak mau menjadi antek di sebuah komunitas antek.

The bad man at this era

Februari lalu, ia melansir buku dalam edisi Indonesia berjudul, Saatnya Dunia Berubah, dan dalam edisi Inggris, It’s Time for the World to Change. Kedua edisi buku – dicetak cuma 2000 eksemplar – sudah terjual habis dan sedang dicetak ulang. Padahal buku itu sepi dari publikasi pers. Di buku ini, ia betul-betul menelanjangi praktek WHO, badan kesehatan dunia itu. Bagaimana WHO mewajibkan Indonesia mengirimkan virus flu burung ke laboratoriumnya di Hongkong. Tahu-tahu sampel itu sudah ada di tangan Amerika.

Bagaimana virus flu burung dari Vietnam diberikan WHO kepada perusahaan-perusahaan besar farmasi dunia untuk dijadikan vaksin, lalu dijual dengan harga seenaknya ke negara yang terserang flu burung – kebanyakan negara berkembang – tanpa konpensasi apa pun.

http://en.wikipedia.org/wiki/Los_Alamos_National_Laboratory
Lebih dari itu, gebrakan perempuan ini telah mengungkap praktek kotor WHO. Ternyata lembaga itu hanya alat Amerika dalam memperkuat arsenal perang biologisnya. Itu setelah terbukti data virus flu burung yang diambil dari Indonesia, disimpan di Los Alamos National Laboratory. Anda tahu itu tempat apa?

Inilah salah satu laboratorium penelitian untuk mengembangkan nuklir dan rudal canggih Amerika. Nama Los Alamos – resminya berada di bawah University of California – menjadi terkenal ketika Desember 1999, seorang penelitinya ditangkap polisi federal FBI, dituduh menjual rudal nuklir W88 yang paling canggih waktu itu, kepada intelijen China.

Wen Ho Lee, peneliti itu, adalah warga Amerika kelahiran Taiwan, mendapat gelar Ph D dalam rekayasa industri dari Texas A&M University. Ternyata tuduhan tak terbukti, Wen Ho Lee dibebaskan. Kasusnya berkembang menjadi isu rasial. Wen dituduh dan ditangkap hanya karena dia satu-satunya peneliti berkulit kuning di laboratorium itu.

Tamengnya Perusahaan Farmasi
Jadi kalau sampel flu burung ada di Los Alamos, apa lagi gunanya kalau bukan untuk pengembangan senjata biologis (kuman). Wakil Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta, John A. Heffern, membantah tuduhan. Katanya, Amerika tak mengembangkan senjata biologis karena terikat konvensi internasional tentang larangan senjata biologis.

Mister John ini mungkin menganggap semua orang Indonesia bodoh sehingga percaya saja pernyataannya. Betul, pada 1972, Presiden Richard Nixon menandatangani Biological and Toxin Weapons Convention (BTWC), yang mengharamkan penggunaan dan pengembangan senjata kuman dan racun. Nixon juga menutup pusat pengembangan senjata biologis di Fort Detrick, Maryland, dekat Washington, 3 tahun sebelumnya.

Konvensi diadakan karena pengembangan senjata itu di antara blok Barat pimpinan Amerika dan blok Timur pimpinan Uni Soviet di era perang dingin waktu itu sudah mengkhawatirkan. Tuduhan bahwa pasukan Amerika menggunakan senjata kimia dan biologis di Vietnam, kemudian di Laos dan Kamboja, sudah sulit dibantah. Amerika juga menggunakan senjata serupa di dalam Perang Korea, awal 1950-an.

Tentu saja orang tahu Amerika tak sungguh-sungguh melaksanakan isi konvensi. Para pengamat meyakini Amerika menyembunyikan program senjatanya dengan menggunakan tameng perusahaan-perusahaan farmasi di negerinya. Sebenarnya riset pengembangan senjata itu tak penah berhenti.

Apalagi BTWC sendiri dianggap macan ompong, tak memiliki ketentuan mengikat. Tak ada ketentuan yang mengizinkan pemeriksaan terhadap suatu laboratorium yang dicurigai. Pada Maret 2001, ada upaya dari Ketua Juru Runding BTWC, Tibor Toth, untuk mengusulkan sejumlah fasal yang lebih mengikat, misalnya, diperbolehkan pemeriksaan terhadap suatu proyek.

Proyek Perang Kuman Terus Digalakkan oleh Amerika (Bacteriological Warfare project goes on to be encouraged by America)

Tapi usulnya ditolak mentah-mentah oleh Presiden George Bush yang waktu itu sedang sibuk menakut-nakuti rakyatnya akan bahaya senjata kuman dari teroris. Karenanya, Amerika, kata Bush, harus mempersiapkan diri menangkalnya. Artinya, proyek perang kuman harus digalakkan.

Dengan penolakan itu, seperti ditulis di sebuah jurnal oleh Profesor Barbara Hatch Rosenberg, ahli senjata biologis dari State University of New York, ‘’Amerika Serikat dan komunitas internasional tak sungguh-sungguh mengupayakan pelarangan senjata biologis.’’

Proyek perang biologis Amerika berjalan secara tertutup, dan cukup aman atau steril dari pemberitaan pers. Soalnya, DPR Amerika Serikat meloloskan undang-undang yang melarang penyiaran informasi tentang riset kuman. Jelas undang-undang itu bertentangan dengan akta kebebasan informasi yang dibangga-banggakan para pendukung kebebasan Amerika di sini.

The Real Terrorist

Belang Amerika Serikat terbuka ketika pecah perang Iran dengan Iraq di tahun 1980-an. Amerika membenci pemerintahan Islam Iran karena menjatuhkan bonekanya yang setia, Shah Iran. Selain Amerika khawatir Iran mengeskpor revolusi Islam ke sejumlah negara Timur Tengah yang mengakibatkan pengaruh super power itu terkikis di kawasan kaya minyak.

Maka Amerika membantu Irak yang dipimpin Saddam Hussein. Selain uang, informasi intelijen, senjata konvensional, Amerika (beserta Inggris dan Italy) mengirimkan senjata kimia dan biologis ke Irak.

Banyak tentara Iran menjadi korban. Foto mayat tentaranya dengan sekujur tubuh melepuh dibawa Iran ke PBB sebagai bahan bukti pengaduan. Tapi PBB tak berbuat apa-apa karena pengaruh Amerika Serikat.

Korban Pembantaian Rezim Saddam menggunakan Senjata Kimia dari USA (Regime Slaughter victim Saddam utilizes chemical weapon from U.S.)

Maka Saddam Hussein pun tambah berani. Sejumlah orang Kurdi dituduhnya berkhianat membantu Iran, diberi pelajaran dengan senjata Amerika itu. Kasus tersebut nanti yang menjadi alasan mengadili dan menghukum mati Saddam setelah Amerika menduduki Irak di tahun 2003. Sidang pengadilan tak pernah mengungkapkan bahwa senjata itu berasal dari Amerika. Maklumlah, sidang itu asal-asalan, terserah keinginan Presiden Bush, dan dilakukan di markas tentara Amerika di Baghdad.

Seusai perang , Saddam mengembangkan senjata biologis dari Amerika dan di kemudian hari itu yang dijadikan Presiden Bush dalih menyerang Irak (lihat Noam Chomsky dalam Failed States, Penguin Book, 2006).

Kalau dibaca buku House of Bush, House of Saud (Simon & Schuster, 2004) yang ditulis Craig Unger, wartawan terkenal dan penulis sejumlah buku, sebenarnya Saddam telah mendapat restu dari Presiden Ronald Reagan untuk menyerang orang Kurdi di Halabja, sebuah kota Iraq di perbatasan Iran, dengan senjata kimia dan biologis. Seperti dikutip buku itu dari koran The Los Angeles Times, Saddam menggunakan helikopter Amerika untuk menebarkannya, menyebabkan kematian 5000 orang Kurdi. Kasus inilah kelak mengantarkan Saddam ke tiang gantungan.

Di buku itu, diungkap jelas bagaimana Presiden Reagan dan pembantunya memberi fasilitas kepada Saddam untuk mengembangkan senjata itu. Departemen Perdagangan Amerika pernah berupaya menghalangi pengiriman berbagai fasilitas, tapi tak berdaya karena berhadapan dengan Gedung Putih. Senat dan Kongres tak bersuara. Sejumlah memo autentik yang relevan kini menjadi bukti tak terbantahkan.

Senjata biologis terhitung efektif sebagai alat pembunuh massal, biayanya murah, dan instalasinya gampang disembunyikan atau disamarkan dibanding instalasi nuklir atau senjata kimia. Laboratorium untuk membuatnya tak terlalu beda dengan laboratorium penelitian farmasi.

Ken Alibek, pakar utama senjata biologis Uni Soviet yang membelot ke Amerika di tahun 1990-an, menulis di dalam bukunya Biohazard, bahwa hulu ledak dengan 100 kg virus anthrax yang ditembakkan dengan rudal mampu membunuh 3 juta penduduk di suatu kota padat penghuni. Itu betul-betul senjata setan.

Selain anthrax yang dikenal sebagai penyakit sapi amat berbahaya, berbagai jenis mikroorganisme penyebab penyakit mematikan lainnya dipergunakan, seperti virus ebola, demam yang amat membunuh yang ditemukan di Afrika, virus smallpox (cacar), dan influenza. Tentu virus flu burung — menyerang hewan dan manusia – yang sulit ditaklukkan dan sekarang berkecamuk di Indonesia, cukup layak dijadikan senjata pemusnah massal. Dari sini tampaknya peran Namru 2 menjadi penting.

Dua tahun lalu, US Army Medical Research Institute of Infectious Disease (USAMRIID) di Fort Detrick, Maryland, yang disebut-sebut sebagai pusat pengembangan senjata biologis Amerika Serikat, telah menemukan vaksin penyakit chikungunya. Penyakit demam yang membuat nyeri pada otot dan bisa melumpuhkan – di sini disebut penyakit lumpuh layu – tampaknya memenuhi kriteria. Dengan itu diduga Amerika Serikat telah mengembangkan virus chikungunya untuk senjata kuman. Entah kebetulan, virus itu kini menyerang pedesaan Indonesia.

Amerika pertama kali melengkapi militernya dengan sistem senjata biologis pada 1942, di masa Perang Dunia ll sedang berkecamuk. Itu guna mengantisipasi kehebatan roket Jerman yang menghujani Inggris. Muncul kekhawatiran kalau roket itu membawa kuman akan sangat membahayakan. Selain itu, Jepang musuh Amerika di kawasan Pasifik, sangat maju dalam riset senjata kuman. Laboratoriumnya sudah lama ada di China.


Kasus penyusupan Anthrax disebuah pengadilan di AS

Maka didirikanlah institusi militer untuk perang kimia dan kuman (The Army Chemical Warfare Service) di Fort Detrick, Marylan, dengan supervisi George W. Merck, pemilik perusahaan farmasi Merck. Fort Detrick dilengkapi berbagai infrastruktur riset dan pengembangan. Uji coba dilakukan di Utah dan Mississippi. Sedang pabrik untuk memproduksinya didirikan di Terre Haute, Indiana.

Seusai Perang Dunia ll, proyek itu lebih digalakkan. Sejumlah ahli senjata biologis Jepang diberi amnesti, setelah bersedia bekerja untuk Amerika. Mereka ditempatkan di bagian khusus yang disebut Unit 731. Jangan heran kalau selama Perang Korea, tentara Amerika yang terdesak oleh pasukan Korea Utara dibantu China, menggunakan senjata itu. Walau kenyataannya mereka kalah juga.

Memang setelah Amerika menandatangani Biological and Toxin Weapons Convention (BTWC), terjadi pembekuan proyek ini. Tapi tak berarti senjata itu dimusnahkan. Terbukti Amerika masih menggunakannya di Laos dan Kamboja, atau diberikan kepada Saddam Hussein. Inilah bukti konkret kalau bantahan Wakil Dubes John A.Heffern tadi tak sesuai dengan fakta yang terjadi.

Koran utama Amerika, The New York Times, 7 September 1982 – sekitar 10 tahun setelah konvensi ditandatangani – menulis bahwa senjata itu masih ada di sebagian basis militer Amerika Serikat. Para ilmuwan tentara masih tetap terlibat pada apa yang mereka sebut riset senjata biologis untuk kepentingan pertahanan (medical defensive B.W. research).

Lalu pada Februai 1989, Kolonel David L. Huxsoll, Komandan USAMRIID, secara terus terang mengakui kepada pers bahwa tentara Amerika Serikat melakukan percobaan pengobatan terhadap pasien di China dan Argentina. Para pasien di China diduga korban serangan senjata biologis Amerika Serikat dalam Perang Korea. Pengobatan yang sama dilakukan di Liberia, Korea Selatan, dan Mesir.

Langkah itu dikecam keras oleh para ahli kesehatan Amerika Serikat. Tindakan itu dianggap hanya akan memulai kembali perlombaan senjata biologis dunia. Dalam pertemuan tahunan asosiasi untuk kemajuan ilmu (The American Association for the Advancement of Science), Januari 1989, para ahli berpendapat tak selayaknya pasukan Amerika terlibat dalam program kesehatan masyarakat sipil. Pengobatan di China dan Argentina, semestinya dilakukan lembaga kesehatan sipil bukan militer.

Di forum itu, Dr Keith Yamamoto dari University of California at San Francisco mengatakan dana riset akan lebih efisien bila digunakan lembaga sipil. Selain itu, kalau tetap dilakukan militer akan menimbulkan kecurigaan bahwa riset militer telah menyamar ke dalam kegiatan pemeliharaan kesehatan publik (The New York Times, 6 Februari 1989).

Apa yang dipersoalkan Keith Yamamoto itulah yang terjadi dalam proyek Namru 2, laboratorium Angkatan Laut Amerika yang sudah bercokol di Jakarta sejak tahun 1970. Rupanya Namru (Naval Medical Research Unit) cukup strategis bagi militer Amerika. Proyek itu sudah didirikan sejak tahun 1940. Ia ada di Mesir, Ghana, dan Peru, selain di Indonesia. Dengan jaringan itu, ia merupakan fasilitas riset medis militer terbesar di dunia.

Resminya, Namru meneliti berbagai penyakit untuk kepentingan tentara Amerika bila suatu waktu bertugas di daerah itu. Sebenarnya, ini pekerjaan yang bisa dilakukan institusi sipil, seperti pendapat Keith Yamamoto. Karenanya tak sulit ditebak, ia tentu bagian dari program perang biologis Amerika. Itulah sebabnya para peneliti Namru di Indonesia membutuhkan kekebalan diplomatik, sehingga bebas ke mana saja, dan bebas membawa apa saja – termasuk sampel kuman — keluar-masuk Indonesia tanpa pemeriksaan apa pun.

imageimageItu pula sebabnya markasnya di Jalan Percetakan Negara, Jakarta, tertutup. Itu dibuktikan sendiri oleh Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari ketika sang menteri mendadak singgah ke sana, 16 April lalu. Meski fasilitas gedung yang dipakai Namru 2 adalah milik Departemen Kesehatan, Siti Fadilah Supari sendiri sulit masuk ke dalamnya. Baru setelah menunggu di luar sekian lama, menteri diperkenankan masuk. Rupanya ada rahasia yang tak boleh diketahui menteri yang harus diamankan terlebih dulu.

Tapi yang terpenting: apa untungnya Namru 2 bagi rakyat Indonesia? Jelas tak ada. Buktinya, bermacam penyakit menular dan mematikan bukannya berkurang, malah tambah merejalela dengan Namru bercokol di sini. Karena itu lebih baik proyek perang kuman Amerika Serikat itu segera ditutup. Apalagi kontrak kerja samanya sudah berakhir 31 Desember 2005.

Bagamana wibawa kedaulatan negara ini kalau bule-bule itu masih bebas berkeliaran seenaknya di sini? Padahal Indonesia bukan negara bagian Amerika dan Presiden SBY bukan gubernur dari Pemerintahan George Bush.

Tapi itulah, terlalu banyak para pemimpin negeri ini yang menghambakan diri kepada Amerika. Buktinya, tanpa perjanjian dan kontrak apa pun sudah 3 tahun Namru 2 bisa terus beroperasi dengan bebas di Indonesia. Sekarang seorang Siti Fadilah Supari menggugatnya. Menarik diikuti bagaimana cerita ini berakhir. (Sumber : Hidayatullah)

Berselancar Lebih Cepat dengan Fasterfox


Firefox oleh banyak orang dianggap sebagai browser yang cukup cepat. Namun, ada saja yang menganggap masih kurang cepat, untungnya telah banyak upaya yang dilakukan untuk mempercepat kinerja firefox yang sudah cepat ini. Salah satunya adalah melalui plug-ins Fasterfox.

Karena sifat firefox yang opensource, banyak orang ‘pintar’ yang dapat ikut andil dalam mengembangkan kinerja si Rubah Api ini. Salah satu upaya untuk meningkatkan kinerja firefox adalah dengan melakukan tweaking. Itulah yang dilakukan oleh plug-ins fasterfox. Fasterfox mempercepat proses browsing dengan memanfaatkan Prefect links dan Network Tweaking. Melalui Prefect Links, tidak ada lagi bandwith menganggur karena firefox akan mengambil dan menyimpan halaman web sebagai cache. Proses transfer halaman web ini dilakukan dilatar belakang sehingga tidak mengganggu aktifitas browsing anda.

Tweaking Network dilakukan pada seting untuk rendering halaman, koneksi simultan, pipelining,cache, DNS-cache, dan IPD (initial paint delay). Selain itu di dalam fasterfox juga telah terintegrasi sebuah pop-up blocker untuk pop-up yang dihasilkan oleh objek flash.

Untuk menginstalasikan plug-ins fasterfox anda dapat mendownloadnya di http://fasterfox.mozdev.org/ , Setelah plug-ins terinstalasi, restart firefox untuk mengaktifkannya. Buka menu Tools | Add-ons, lalu klik ganda plug-ins fasterfox untuk membuka option yang tersedia. Fasilitas tersebut adalah pilihan Default, Courteous, Optimized, Turbo Charged, dan Custom.

Pilihan default akan mengembalikan semua setingan ke kondisi semula. Pilihan Courteous hanya melakukan tweaking pada proses rendering sehingga tidak akan membebani webserver. Pilihan Optimized akan melakukan tweaking optimum dalam batasan yang diizinkan oleh RFC. Pilihan Turbo Charged adalah pilihan yang paling ekstrem, ia akan melakukan tweaking seoptimal mungkin dengan mengabaikan batasan yang diizinkan.

Turbo Charged dapat menjadi pilihan utama bagi anda yang berbagi jalur internet, sedang jika anda seorang yang bijaksana, Courteous dan Optimized adalah pilihan yang tepat. Dengan memilih custom anda dapat mengatur aspek-aspek tweaking secara lebih terperinci. Disini anda dapat mengatur langsung besarnya cache yang akan digunakan, banyaknya koneksi simultan ke sebuah web server, jumlah pipelining, banyaknya halaman fastback, dan menghidupkan/mematikan pop-up blocker.

Nambah Lagi….. 3 Tentara Amerika Tewas di Irak

Bagdad - Sebuah serangan bom kembali menelan korban tiga tentara Amerika dan seorang penerjemahnya di propinsi Nineveh, kata militer Amerika.

Ketiga tentara dan penerjemahnya itu terbunuh pada pukul 10:45 hari Selasa, kata sumber militer. Namun belum bisa dipastikan dimana tepatnya serangan itu dilakukan di daerah Nineveh.

Dengan kematian ini berarti jumlah tentara yang tewas di Irak sejak Maret 2003 sekitar 4109 orang. Tetapi sumber independen mengatakan jumlah yang sebenarnya bisa lebih separuhnya dari yang diumumkan pemerintah Amerika resmi.

Presiden Amerika Walker Bush menutup-nutupi jumlah kematian sebenarnya tentara Amerika yang di Irak agar gelombang unjuk rasa dan protes penarikan tentara Amerika di Irak tidak semakin gencar disuarakan.

Wartawan AS : “Bush Bodoh Jika Serang IRAN”

  • Middle East - Christopher Hedges, seorang jurnalis yang namanya cukup diperhitungkan di AS (Amerika), mengharapkan agar para analis di Amerika dan semua pihak yang berurusan dengan wilayah Timur Tengah sebaiknya tidak membenarkan rencana pemerintah George W Bush Jr, untuk menyerang Iran.

Hedges yang sudah tujuh tahun berada di Timur Tengah sebagai Kepala Biro Tumur Tengah untuk The New York Times mengatakan bahwa visi pemerintah Bush untuk menyerang Iran tidak bisa dipahami dan merupakan keinginan yang bodoh.

Hedges mengungkapkan itu semua dalam sesi tanya jawab di Los Anggles Times Festival of Books 2008. “Sangat bodoh, hampir tak bisa dipahami buat kami yang tahu persoalan Timur Tengah” ujar Hedges yan pernah memenangkan hadiah Pulitzer, penghargaan bergengsi bagi wartawan dan penulis di AS. IA menambahkan, AS akan menanggung konsekuensi yang sangat berat jika melakukan serangan itu dan akan menjadi tindakan yang kontraproduktif bagi masyarakat AS dan Timur Tengah.



RUANG IKLAN

« Previous entries